Postingan

Saat Ayah Harus Membagi Waktu untukmu dan Mama

Setelah Ayah dan Mama menikah, Mama tetap tinggal di Bandung meneruskan pekerjaan Mama sebagai Senior Editor di sebuah penerbit buku. Mama terpaksa menyembunyikan status pernikahan siri Mama kepada teman-teman sekantor Mama karena pernikahan siri masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Pernikahan siri, selama terpenuhi rukun dan syaratnya tetaplah sah di mata Allah Swt., apalagi kalau tujuan pernikahannya memang benar-benar dilakukan sesuai syariat. Namun, pada pelaksanaannya banyak yang menyelewengkan demi kepentingan syahwat semata. Insya Allah Ayah dan Mama tidak melakukan pernikahan siri untuk hal itu. Ayah dan Mama justru melakukan pernikahan siri ini demi menjaga diri dari hal yang dilarang Allah seperti pacaran yang banyak dilakukan anak muda zaman sekarang. Sebuah pernikahan, sesuai anjuran Rasulullah saw. haruslah dikabarkan kepada khalayak agar tidak menjadi fitnah. Saat Ayah dan Mama sudah menentukan tanggal pernikahan resmi, yaitu 13 Februari 2011, kami pun menye...

Seharian di Pantai Parangtritis

Sehari setelah Ayahmu datang ke Banyumas, kita kembali berangkat ke Jogja. Kita akan liburan di sana juga. Kamu masih ingat waktu kita liburan dan bermain bersama di Pantai Parangtritis? Kita mandi bersama di pinggir pantai setelah lama bermain-main dengan ombak air laut dan pasirnya. Lalu, kita beristirahat di penginapan dekat pantai. Kamu tertidur lelap setelah capek seharian bermain di pantai. Kata Ayah, beberapa bulan setelah ibumu berpulang ke Rahmatullah, Ayahmu juga mengajak kalian berdua ke Parangtritis dan menginap di penginapan yang sama. Bedanya, kali ini bareng sama Mama dan Mbakyumu Hertin (anak Bude Harti). Yah, kita butuh dua motor untuk pergi ke sana. Kamu naik satu motor bareng Ayah dan Mama, sedangkan Mbakmu Nimas satu motor dengan Mbak H ertin . Sesampainya di pantai Ayah langsung menyewa satu kamar untuk menyimpan barang-barang bawaan kita. Kamu dan Ayah lebih dulu ke pantai, sedangkan Mama, Mbak Nimas, Mbak Hertin pesan makanan dulu di kamar. Beberapa ...

“Memang Ayah Sudah Jadian?”

“Memang Ayah sudah jadian?” begitu polos kamu bertanya saat Ayah memintamu memanggil “Mama” kepada perempuan yang satu ini. Perjalanan kita ke Jogja untuk mengantarmu berlibur bersama adikmu sekaligus menjadi perjalanan cinta Ayah dan Mama menuju pernikahan suci. Ayah meminta restu Mbok Tua dan Pak Tua (kakek-nenekmu di Jogja) untuk menikah lagi sekaligus mengenalkan Mama kepada mereka. Dari Jogja, Ayah dan Mama melanjutkan perjalanan ke Banyumas setelah mengantongi izin dari kakek-nenekmu. Di Banyumas itulah Ayah dan Mama langsung melakukan akad nikah meski tanpa prosesi lamaran seperti yang biasa dilakukan pasangan menjelang pernikahan mereka. Waktu yang serba kilat membuat Ayah dan Mama tidak langsung menikah resmi secara tertulis di KUA alias nikah siri. Yang penting kami sudah menjadi pasangan sah secara syariat di hadapan Allah Swt. Kami tidak ingin melakukan pacaran karena hal itu dilarang dalam Islam. Itu sebabnya kami memilih jalan pintas asal tidak melanggar aturan Allah...

Liburan di Banyumas

Gambar
Banyak sekali hal yang harus Ayah dan Mama lakukan di keluarga baru kita. Salah satunya mengenalkan dan mengakrabkan kamu dan kakakmu kepada keluarga besar Mama di Banyumas. Bagaimana pun keluarga Mama sekarang sudah menjadi keluarga kalian dan kalian sudah menjadi bagian dari keluarga besar Mama. Itu sebabnya saat liburan tiba Mama mengajak kalian menginap di rumah orang tua Mama (Mbah Kakung dan Mbah Putri kalian) di Banyumas. Berlibur bersama Ayahmu, okelah. Apa pun masalah kamu selama di tempat berlibur bisa ditangani. Kali ini Mama hanya mengajak kamu dan kakakmu ke Banyumas. Dari Bekasi Mama dan Mbakmu Nimas bertolak ke Jogja untuk menjemputmu. Sore harinya langsung ke Banyumas. Menunggu waktu berangkat, kamu tampak seperti tidak sabar. Apalagi waktu Mama cerita kalau nanti kamu akan diajak ke waterboom . “ Ayo to , Ma!” ajakmu. Kamu sampai nggak mau makan siang karena pengen segera berangkat. Akhirnya Mama meminta Budemu menyiapkan bekal makan, siapa tahu nan...

Saat Dirimu Tertidur di Pangkuan Mama

Pendiam, pemalu, dan sangat tertutup, itulah kesan pertama Mama (waktu itu belum menjadi Mamamu karena Mama dan Ayah belum menikah) saat bertemu denganmu. Wajah manismu terbalut jilbab besar dengan jubah khas santri pesantren salafi. Kata Ayahmu hafalan Al Qur’anmu sudah lumayan banyak, sekitar lima juz. Wah ... Mama salut dengan prestasimu ini. Saat Mama seusia kamu dan menuntut ilmu di pesantren, Mama baru menghafal satu juz, yaitu juz 30. Itu pun sekarang sudah banyak yang lupa. Mama berdoa semoga kamu menjadi hafizah yang dicintai Allah Swt. Amin. Saat Ayahmu mengajak Mama berkenalan dan mengaku sudah memiliki anak yang kini menginjak remaja, sempat muncul kekhawatiran di hati Mama kalau kamu akan menolak kehadiran Mama. Mama tahu, betapa tidak mudah menerima orang baru, apalagi untuk menggantikan posisi orang terdekatmu selama ini, yaitu ibu kandungmu. Mama khawatir kamu akan mengira Ayahmu tidak lagi mencintai ibu kandungmu. Percayalah, Ayahmu tetap mencintai ibu kandungmu, ...

Saat Jumpa Pertama

Berwajah bulat dengan hidung kecil dan berkulit sawo matang cenderung gelap. Itulah gambaran dirimu saat pertama kali Mama melihat dan bertemu denganmu. Ada satu yang paling Mama suka dari Dhimas kecil, senyum dan tawamu yang renyah dengan gigi-gigi kecil rapi dan putih, sungguh manis. Ini yang sering membuat Mama kangen sama kamu hingga membuat Mama tidak berhenti berusaha membuatmu tersenyum dan tertawa. Mama pertama kali mengenal dan melihatmu di Jogja, di rumah Budemu. Usiamu saat itu baru sekitar empat tahunan. Mungkin kamu sudah lupa, Le. Mama ke sana pertama kali bareng Ayahmu dan Mbak Nimas yang sengaja ingin liburan di Jogja bersamamu. Sudah lama kakakmu tidak bertemu denganmu. Dia sangat rindu sama kamu, Le. Kami sampai di sana pagi hari saat kamu masih tertidur lelap. Ayahmu langsung menemuimu di kasur. Kamu sudah tidak bercelana karena ngompol. Begitu matamu melek, orang pertama yang kamu lihat adalah Ayah. Ayah langsung menggendongmu. Hari itu juga Ayah langsung...